Sepatu Kaca untuk Davina
Sore ini hari memang sedikit mendung.
Davina hanya bisa termenung melihat sayur-sayur di kebun kecil belakang
rumahnya yang mulai layu dari balik jendela kamarnya. Sebuah ruang kecil yang
hanya cukup untuk menyimpan kasur kecil lusuh dan sebuah meja mungil dengan
tumpukan buku pelajaran yang selalu tersusun rapi dan juga sebuah bingkai
cantik berhiaskan kerang mengelilingi sebuah foto keluarga yang terlihat begitu
bahagia yang terdiri atas Davina, Sang Bunda, dan Almarhum Sang Ayah yang
meninggal sepuluh tahun lalu saat Davina berumur enam tahun karena penyakit
jantung yang sudah lama dideritanya.
Kepergian Sang Ayah memang telah
merubah segalanya. Kini Davina dan Sang Bunda tidak lagi hidup dalam
gemerlapnya harta, karena ayahnya meninggalkan mereka dengan tumpukan hutang
yang terpaksa membuat mereka hidup dengan ekonomi yang kurang berkecukupan dan
harus banting tulang demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Bukannya menghibur temannya yang
sedang tertimpa musibah, Fero dan Chika, sahabat yang dulu selalu setia
menemani Davina saat ia masih berlimpah harta kini meninggalkannya karena hal
yang sama sekali tidak masuk akal.
“Aku dan Chika cuma mau berteman
dengan orang yang se-level sama kita, bukan orang miskin kaya kamu sekarang,
iya kan Chik ?” Dengan angkuhnya Fero mengatakan hal itu pada sahabatnya
sendiri dengan diikuti anggukan kepala Chika yang terlihat ragu untuk
menyetujui pendapat temannya itu. Namun selama ini Chika memang terlihat
seperti ajudan Fero yang harus selalu menaati perintahnya.
“Aku tahu mungkin kalian malu berteman
dengan orang miskin sepertiku, jadi aku gak akan melarang kalian menjauhi aku.”
Kini Davina hanya bisa tertunduk tanpa berkomentar lebih banyak.
“Bukan mungkin, tapi memang iya. Baguslah kalau kamu sadar, kalau gitu kamu
gak perlu lagi repot-repot panggil aku teman, karena aku gak akan sudi lagi
temenan sama kamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Davina, Fero dan Chika
meninggalkannya sendiri di koridor sekolah yang kini sudah mulai sepi.
“Gak usah khawatir Vin, aku akan
selalu senang hati kok temenan sama kamu. Fero dan Chika pasti bakal nyesel
udah ninggalin kamu sendirian disini.” Suara lembut yang terdengar sangat ramah
itu membuat Davina langsung menolehkan kepalanya dan tertegun melihat cowok
tinggi semampai dengan wajah tampan yang ia tahu adalah cowok idaman Fero.
“Trian, kenapa kamu masih disini ?”
Dengan santai Trian menggandeng tangan Davina dan membawanya ke parkiran. “Aku
anter kamu pulang, ya ?”
Cukup. Lamunan Davina atas kejadian
tadi siang itu membuatnya semakin frustasi saja. Fero akan lebih membecinya
jika tahu Trian mengantarnya pulang. Untunglah, masih ada Diba, sahabatnya yang
selalu setia dan bisa menerima Davina dengan senang hati apapun keadaanya.
Diantaranya ketiga sahabatnya, ternyata hanya Diba yang memang tulus berteman
dengan Davina.
***
Dulu,
saat Davina masih bergelimang harta, ia berencana akan membeli sepasang sepatu
kaca yang ia lihat di etalase toko sepatu highclass
yang membuatnya tertarik sejak pertama melihatnya. Jadi meskipun kini
keadaannya telah berubah, Davina tak pernah putus asa mengumpulkan uang sedikit
demi sedikit dari hasil menjual sayur produksi kebunnya sendiri di pasar yang
biasa ia jual pagi-pagi buta sebelum pergi sekolah untuk membantu Sang Bunda,
agar bisa membelinya.
Karena
keinginannya yang begitu kuat, Davina diam-diam sering mengikuti beberapa lomba
karya tulis dan seringkali menjadi juara. Uang hadiahnya ia kumpulkan untuk
membeli sepatu idamannya. Tapi setiap kali uangnya sudah terkumpul, ada saja
kebutuhan mendesak yang membuatnya mengurungkan niatnya itu dan memberikan
uangnya pada Sang Bunda.
Namun,
sesuatu telah menimpa Davina. Sesuatu yang membuatnya hanya bisa duduk ditemani
rasa sedih dan penyesalan karena tak bisa lagi membantu Sang Bunda mengantarkan
sayur ke pasar dengan sepeda tua warisan Sang Ayah yang kini sudah tertumpuk
bersama barang rongsokan lain di tempat sampah. Sebuah truk besar melintas
dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan saat Davina berusaha bangkit
setelah terjatuh dari sepedanya yang oleng karena hampir tertabrak mobil.
Dengan keadaan yang tak terkendali, truk tersebut langsung menabrak Davina dan
membuatnya harus rela kehilangan kaki kirinya untuk selamanya.
Kejadian
itu membuat Fero dan Chika semakin enggan berteman dengan Davina.
“Dengan
kaki yang cuma sebelah gitu, bisa apa kamu!, udah miskin, cacat lagi!” Ya, itu
memang kenyataan. Tapi apa Fero tidak bisa mengatakannya dengan lebih sopan?.
Walaupun rasanya sakit dihina seperti itu, Davina hanya menganggap itu sebagai
angin lalu.
“Jangan
dihiraukan Vin, Fero memang orang yang gak punya hati.” Hibur Diba pada Davina.
“Orang
cacat sepertiku ini memang pantas diperlakukan seperti itu.” Kini Davina
terlihat begitu sedih, namun Diba tak henti menghiburnya.
“Tidak
Vin, bahkan orang cacat pun bisa jauh lebih pantas dihargai daripada orang
dengan tubuh sempurna tapi berhati cacat.”
Keinginan
Davina untuk membeli sepatu kaca itu kini pupus seketika karena dia pikir itu
tak lagi pantas ia pakai karena tak bisa memakainya dengan utuh, melainkan
hanya sebelah. Sekarang kemanapun ia pergi, tongkat kayunya setia menemani.
Sang
Bunda, Bu Viana hanya seorang tukang jahit dengan penghasilan yang tak
seberapa. Untung saja Bu Viana memiliki anak yang pandai, jadi sekolah tidak
memungut biaya darinya sepeserpun.
Di
sekolah, Davina adalah anak yang pandai
begaul, tapi sejak tongkat kayunya menjadi sahabat sejatinya selain Diba,
banyak teman-temannya yang menjauhi Davina. Tapi tak sedikit juga yang simpatik
terhadap keadaannya, terutama Diba dan Trian. Mereka selalu memberikan semangat
untuk Davina agar ia tak perlu merasa rendah diri. Berbeda dengan Fero dan Chika yang tak ada puas-puasnya menghina
Davina sampai seringkali membuatnya menangis. Tapi meskipun begitu, Davina tak
pernah membenci mereka dan selalu menganggap Fero dan Chika sebagai sahabatnya.
Selain itu, Davina tak pernah ragu membantu mereka jika mereka sedang
kesulitan.
Kebaikan
Davina tak pernah dihargai sedikitpun oleh Fero dan Chika, malah kebencian
mereka semakin menjadi-jadi saat tahu Trian, cowok yang ditaksirnya itu selalu
membela Davina dan begitu perhatian pada Davina.
“Udah
cacat masih aja berani menggoda cowok orang, gak tahu malu!” Bentak Fero dengan
penuh emosi.
“Apa
maksud kamu?, aku gak ngerti kamu ngomong apa.”
“Gak
usah sok suci deh jadi orang, kamu mau cari perhatian sama Trian, hah!” Dengan
kata hah yang ditekankan Fero membuat
Davina semakin terpojok.
“Iya,
jujur aja deh. Ada hubungan apa kamu sama Trian?” Oke, kini pertanyaan Chika
membuat Davina tersentak dan mengerti apa maksud tuduhan Fero itu.
“Apa
maksud kalian?, aku dan Trian hanya berteman. Kami berdua tak lebih dari itu.” Davina
berusaha meyakinkan Fero dan Chika yang terlihat tak mempercayainya.
“Aku
tahu kamu menyukai Trian sejak dulu, Fer. Jadi gak mungkin aku berani
macam-macam sama Trian.”
“BULLSHIT!,
terus kenapa kamu nempel-nempel sama Trian?” Fero melemparkan tatapan tajamnya
pada Davina.
“Trian
yang selalu menghampiri aku duluan, aku gak pernah berusaha untuk deketin dia.”
Sebelum Davina semakin terpojok, Diba datang dan membawa Davina menjauh dari
dua nenek sihir itu.
Keinginan
Davina untuk membeli sepatu idamannya itu memang ia rahasiakan dari ibu dan
sahabatnya, Diba. Ia tak ingin merepotkan siapapun. Davina hanya menuliskan
keinginannya itu di selembar kertas yang ia selipkan di buku tulisnya yang tak
sengaja terlihat oleh Diba saat jam istirahat dan membuatnya terdiam melihat
isinya.
“I’ll never give up to get SEPATU KACA
It’s my dream !
I promise I’ll get it only with my sweat”
***
Bel pulang pun berbunyi. Diba
yang biasanya menemani Davina pulang sampai rumah, hari ini absen karena dia
bilang ada urusan keluarga yang mendadak.
“Enggak apa-apa Dib, aku bisa
kok pulang sendiri.” Dengan raut muka menyesal, Diba meninggalkan Davina
seorang diri. Karena tidak memiliki uang yang cukup akhirnya Davina pulang
dengan berjalan kaki.
Di tengah perjalanan, Davina
tidak sengaja melihat Fero yang
menyebrang jalan sambil memainkan i-Podnya, dan sialnya ada truk bermuatan kayu
yang kini mengarah pada Fero. Tanpa pikir panjang, Davina lari dengan
tongkatnya secepat mungkin untuk menyelamatkan Fero. Didorongnya Fero ke
trotoar jalan. Namun sayang, niat baik Davina harus dibayar dengan nyawanya
sendiri. Davina tewas seketika dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Fero
yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri kini hanya bisa menangis
histeris melihat orang yang selama ini dijahatinya karena keegoisan dan
kecemburuannya pada Davina yang selalu mendapat perhatian Trian kini tewas
mengenaskan demi menyelamatkan nyawanya.
Diba yang langsung pulang karena
urusan keluarganya itu sebenarnya hanyalah alasan agar ia bisa pergi ke mall untuk membelikan sepatu idaman
sahabatnya. Tapi belum sempat ia membeli sepatu itu, pesan singkat yang dikirim
Fero membuat Diba langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Davina.
Dengan penuh kekhawatiran, Diba langsung menghubungi Bu Viana dan Trian yang
langsung menyusul ke rumah sakit, tempat yang kini menjadi ruangan mencekam
dengan jerit tangis dan banjir air mata karena kepergian Davina. Demi keperluan
otopsi, Davina baru bisa dimakamkan esok hari.
Besok adalah Hari Ulang Tahun Davina
yang ke-17. Diba menceritakan keinginan Davina pada Fero yang tanpa pikir
panjang langsung bergegas membeli hadiah istimewa untuk Davina dengan ditemani
oleh Chika dan berharap keajaiban menghampiri Davina agar ia dapat membuka
matanya kembali. Tak lama kemudian Fero datang membawa sepasang sepatu cantik
dengan penuh harap.
“Davina, aku benar-benar minta
maaf karena selama ini aku selalu jahatin kamu, padahal seharusnya aku nemenin
kamu saat kondisi kamu kaya gitu. Aku
benar-benar menyesal atas sikap aku yang kasar sama kamu selama ini.”
Dengan terisak Fero terus
berusaha menyampaikan maksudnya dengan menyimpan kotak cantik yang dibalut oleh
kertas berwarna keemasan dengan pita merah muda nan cantik itu disamping Davina.
“Ini Vin, ini sepatu kaca untuk
kamu. Aku mohon kamu bangun Vin, kamu akan sangat cantik memakai sepatu kaca
ini.” Kini Fero tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.
Tuhan memang punya rencana-Nya
sendiri yang tak bisa ditebak oleh siapapun.
Tepat di Hari Ulang Tahun Davina
yang ke-17, semua orang harus merayakannya di tempat yang takkan pernah mungkin
menjadi tempat perayaan ulang tahun selayaknya. Bu Viana sangat terpukul dengan
kepergian Davina yang tak terduga, terutama Fero yang diselimuti sejuta rasa
bersalah dan Diba yang tak sanggup lagi berdiri dan terus terisak tanpa
berusaha menghentikannya karena sahabat sejatinya kini pergi disaat ia
seharusnya berbahagia dan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan doa bersama
untuk kebahagiaan hidupnya dengan mengenakan gaun cantik dan sepatu kaca yang
ia inginkan selama ini, yang tentu saja akan membuatnya terlihat begitu cantik.
Bukan dirayakan dengan isak tangis dan seuntai doa yang mengiring kepergiannya
dengan gaun cantik yang kini digantikan dengan sehelai kain putih bersih untuk
membalut tubuh Davina yang kini terbujur kaku dibawah tumpukan tanah yang
dibahasi air mata kehilangan.
Dan sepatu kaca itu kini hanya
bisa tersimpan cantik di depan pusara gadis berhati tulus yang bertuliskan “Davina
Putriani”.