Diberdayakan oleh Blogger.

what time is it?

Minggu, 14 Oktober 2012

layang-layang

sesekali ingin kucoba menulis harapan di layang-layang
kutulis di kertasnya yang tipis
kurekatkan pada bambu penahannya

kuterbangkan layangan itu, biar dia berdansa dengan udara
swing atau tango, entahlah
benangnya akan kupegang erat
lalu disaat aku siap, kulepaskan dengan senang hati
biarlah layangan harap dan doaku pergi

meninggi
aku tak tahu kemana angin akan menculiknya
apakah layang-layang itu akan tersangkut di awan
terlilit pada temali diantara lekuk jejeran tiang listrik
sembunyi di ranting pohon yang mulai teranggas benalu

atau...
terjatuh diatap rumahmu
yang jelas, aku sudah menuliskan inginku di layang itu
semoga terbaca dan aksaranya terselip di iris matamu
disitu ditulis juga pesan, aku merindukanmu

layang-layangku, jatuhlah di tanah yang ingin kau tuju

»»  READMORE...

One Direction - What Makes You Beautiful







Single perdana One Direction itu “What Makes You Beautiful” dirilis pada tanggal 11 September 2011. Single ini memulai debutnya di UK Singles Chart di nomor satu pada 18 September 2011.
»»  READMORE...

oh i'm crazy about chocolate !!!

apapun tentang coklat, semua yang berhubungan dengan coklat, dan bagaimanapun bentuk dan rupanya, I LOVE CHOCOLATE ~


»»  READMORE...

Detik


detik itu aneh, kadang dia seperti FLASH yang berlari cepat dan membuatku tak bisa mengejarnya, tapi kadang dia seperti KURA-KURA! Lambat!

kadang detik itu tak suka menunggu, tapi suka sekali membuatmu menunggu.

kadang, detik juga suka membawa pisau, semakin kau melewatinya, semakin dia mengiris-iris hatimu. perih.

kadang, detik juga suka membawa bunga, setiap kau melewatinya, perasaanmu menjadi berbunga-bunga. dan disaat itu, kau tak ingin cepat berlalu.

kadang ada detik yang membawa balon dan jarum. dia akan meletuskannya saat kau melewatinya. kau kaget. jantung berdegup kencang.

kadang ada detik yang tak membawa apa-apa, kau hanya melewatinya, itu saja.

tapi detik itu meyiapkan kejutan untukmu.

aku ingin mengoleksi detik-detikmu disetiap putaran waktuku. aku ingin menghentikan detik, saat kutangkap senyummu.

biarlah waktu membeku saat itu.

saat detik berhenti saat bersamamu, percayalah. itu bukan kiamat, melainkan abadi.

saat detik kulewati dengan diam bersamamu, aku percaya bahwa itu salah satu hadiah dari Tuhan yang diberikan padaku.

detik mengikis mimpiku, menyublimnya menjadi realita.
detik menghempaskan kalutku, mengiringku menuju-Nya.
detik, menyisiri waktuku dan waktumu.
detik kita.

dikutip dari "Sadgenic"
»»  READMORE...

Minggu, 07 Oktober 2012

SEPI

kadang dalam hidup,
tak akan selamanya segala sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan,
segala sesuatunya berputar seirama dengan bumi yang tak pernah diam.
ada saatnya kita tertawa bahagia,
namun ada kalanya juga kita menangis merintih karena waktu yang sedang tak ingin bersahabat.
ada saat kita dapat mengeluarkan suara keriangan dan bercerita tentang menisnya hidup,
dan ada pula saat kita hanya bisa terdiam membisu dengan segala gejolak amarah dan kesedihan yang tak kuasa kita ungkapkan,
bukan karena kumpulan amarah yang bagai soda dalam botol yang siap meledak karena terus diguncang kebimbangan,
namun semata karena kesunyian yang tak kunjung tersiap dari kesendirian yang tak berujung.
riuh gaduh suara terdengar memekik telinga,
namun tak menggema sedikit pun dalam hati yang terlampau hampa karena kekosongan.
bagai hidup sendiri diatas fatamorgana dunia yang hanya bisa menjanjikan kekosongan,
adalah siksa dengan pedih yang sudah tak lagi bisa diungkapkan,
kesendirian bagai ada dibawah tatapan tajam matahari yang menantang
untuk tahu siapa sang jagoan tanpa ada pohon rindang yang sedianya bisa sedikit melindungi dari sang mentari yang terlanjur memusuhi.
semua hilang,
asa,
harapan,
angan,
cita,
dan cinta yang semula terlukis indah
berbingkai kenangan manis disetiap goresan lembut sang kuas,
kini tak lagi menampakkan kehangatan dalam setiap jengkal warna kehidupan
yang kini terlanjur menjadi kelabu
»»  READMORE...

Cerita Pendek


Sepatu Kaca untuk Davina

Sore ini hari memang sedikit mendung. Davina hanya bisa termenung melihat sayur-sayur di kebun kecil belakang rumahnya yang mulai layu dari balik jendela kamarnya. Sebuah ruang kecil yang hanya cukup untuk menyimpan kasur kecil lusuh dan sebuah meja mungil dengan tumpukan buku pelajaran yang selalu tersusun rapi dan juga sebuah bingkai cantik berhiaskan kerang mengelilingi sebuah foto keluarga yang terlihat begitu bahagia yang terdiri atas Davina, Sang Bunda, dan Almarhum Sang Ayah yang meninggal sepuluh tahun lalu saat Davina berumur enam tahun karena penyakit jantung yang sudah lama dideritanya.
Kepergian Sang Ayah memang telah merubah segalanya. Kini Davina dan Sang Bunda tidak lagi hidup dalam gemerlapnya harta, karena ayahnya meninggalkan mereka dengan tumpukan hutang yang terpaksa membuat mereka hidup dengan ekonomi yang kurang berkecukupan dan harus banting tulang demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Bukannya menghibur temannya yang sedang tertimpa musibah, Fero dan Chika, sahabat yang dulu selalu setia menemani Davina saat ia masih berlimpah harta kini meninggalkannya karena hal yang sama sekali tidak masuk akal.
“Aku dan Chika cuma mau berteman dengan orang yang se-level sama kita, bukan orang miskin kaya kamu sekarang, iya kan Chik ?” Dengan angkuhnya Fero mengatakan hal itu pada sahabatnya sendiri dengan diikuti anggukan kepala Chika yang terlihat ragu untuk menyetujui pendapat temannya itu. Namun selama ini Chika memang terlihat seperti ajudan Fero yang harus selalu menaati perintahnya.
“Aku tahu mungkin kalian malu berteman dengan orang miskin sepertiku, jadi aku gak akan melarang kalian menjauhi aku.” Kini Davina hanya bisa tertunduk tanpa berkomentar lebih banyak.
“Bukan mungkin, tapi memang iya.  Baguslah kalau kamu sadar, kalau gitu kamu gak perlu lagi repot-repot panggil aku teman, karena aku gak akan sudi lagi temenan sama kamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Davina, Fero dan Chika meninggalkannya sendiri di koridor sekolah yang kini sudah mulai sepi.
“Gak usah khawatir Vin, aku akan selalu senang hati kok temenan sama kamu. Fero dan Chika pasti bakal nyesel udah ninggalin kamu sendirian disini.” Suara lembut yang terdengar sangat ramah itu membuat Davina langsung menolehkan kepalanya dan tertegun melihat cowok tinggi semampai dengan wajah tampan yang ia tahu adalah cowok idaman Fero.
“Trian, kenapa kamu masih disini ?” Dengan santai Trian menggandeng tangan Davina dan membawanya ke parkiran. “Aku anter kamu pulang, ya ?”
Cukup. Lamunan Davina atas kejadian tadi siang itu membuatnya semakin frustasi saja. Fero akan lebih membecinya jika tahu Trian mengantarnya pulang. Untunglah, masih ada Diba, sahabatnya yang selalu setia dan bisa menerima Davina dengan senang hati apapun keadaanya. Diantaranya ketiga sahabatnya, ternyata hanya Diba yang memang tulus berteman dengan Davina.
***
                Dulu, saat Davina masih bergelimang harta, ia berencana akan membeli sepasang sepatu kaca yang ia lihat di etalase toko sepatu highclass yang membuatnya tertarik sejak pertama melihatnya. Jadi meskipun kini keadaannya telah berubah, Davina tak pernah putus asa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil menjual sayur produksi kebunnya sendiri di pasar yang biasa ia jual pagi-pagi buta sebelum pergi sekolah untuk membantu Sang Bunda, agar bisa membelinya.
                Karena keinginannya yang begitu kuat, Davina diam-diam sering mengikuti beberapa lomba karya tulis dan seringkali menjadi juara. Uang hadiahnya ia kumpulkan untuk membeli sepatu idamannya. Tapi setiap kali uangnya sudah terkumpul, ada saja kebutuhan mendesak yang membuatnya mengurungkan niatnya itu dan memberikan uangnya pada Sang Bunda.
                Namun, sesuatu telah menimpa Davina. Sesuatu yang membuatnya hanya bisa duduk ditemani rasa sedih dan penyesalan karena tak bisa lagi membantu Sang Bunda mengantarkan sayur ke pasar dengan sepeda tua warisan Sang Ayah yang kini sudah tertumpuk bersama barang rongsokan lain di tempat sampah. Sebuah truk besar melintas dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan saat Davina berusaha bangkit setelah terjatuh dari sepedanya yang oleng karena hampir tertabrak mobil. Dengan keadaan yang tak terkendali, truk tersebut langsung menabrak Davina dan membuatnya harus rela kehilangan kaki kirinya untuk selamanya.
                Kejadian itu membuat Fero dan Chika semakin enggan berteman dengan Davina.
                “Dengan kaki yang cuma sebelah gitu, bisa apa kamu!, udah miskin, cacat lagi!” Ya, itu memang kenyataan. Tapi apa Fero tidak bisa mengatakannya dengan lebih sopan?. Walaupun rasanya sakit dihina seperti itu, Davina hanya menganggap itu sebagai angin lalu.
                “Jangan dihiraukan Vin, Fero memang orang yang gak punya hati.” Hibur Diba pada Davina.
                “Orang cacat sepertiku ini memang pantas diperlakukan seperti itu.” Kini Davina terlihat begitu sedih, namun Diba tak henti menghiburnya.
                “Tidak Vin, bahkan orang cacat pun bisa jauh lebih pantas dihargai daripada orang dengan tubuh sempurna tapi berhati cacat.”
                Keinginan Davina untuk membeli sepatu kaca itu kini pupus seketika karena dia pikir itu tak lagi pantas ia pakai karena tak bisa memakainya dengan utuh, melainkan hanya sebelah. Sekarang kemanapun ia pergi, tongkat kayunya setia menemani.
                Sang Bunda, Bu Viana hanya seorang tukang jahit dengan penghasilan yang tak seberapa. Untung saja Bu Viana memiliki anak yang pandai, jadi sekolah tidak memungut biaya darinya sepeserpun.
                Di sekolah,  Davina adalah anak yang pandai begaul, tapi sejak tongkat kayunya menjadi sahabat sejatinya selain Diba, banyak teman-temannya yang menjauhi Davina. Tapi tak sedikit juga yang simpatik terhadap keadaannya, terutama Diba dan Trian. Mereka selalu memberikan semangat untuk Davina agar ia tak perlu merasa rendah diri. Berbeda dengan Fero  dan Chika yang tak ada puas-puasnya menghina Davina sampai seringkali membuatnya menangis. Tapi meskipun begitu, Davina tak pernah membenci mereka dan selalu menganggap Fero dan Chika sebagai sahabatnya. Selain itu, Davina tak pernah ragu membantu mereka jika mereka sedang kesulitan.
                Kebaikan Davina tak pernah dihargai sedikitpun oleh Fero dan Chika, malah kebencian mereka semakin menjadi-jadi saat tahu Trian, cowok yang ditaksirnya itu selalu membela Davina dan begitu perhatian pada Davina.
                “Udah cacat masih aja berani menggoda cowok orang, gak tahu malu!” Bentak Fero dengan penuh emosi.
                “Apa maksud kamu?, aku gak ngerti kamu ngomong apa.”
                “Gak usah sok suci deh jadi orang, kamu mau cari perhatian sama Trian, hah!” Dengan kata hah yang ditekankan Fero membuat Davina semakin terpojok.
                “Iya, jujur aja deh. Ada hubungan apa kamu sama Trian?” Oke, kini pertanyaan Chika membuat Davina tersentak dan mengerti apa maksud tuduhan Fero itu.
                “Apa maksud kalian?, aku dan Trian hanya berteman. Kami berdua tak lebih dari itu.” Davina berusaha meyakinkan Fero dan Chika yang terlihat tak  mempercayainya.
                “Aku tahu kamu menyukai Trian sejak dulu, Fer. Jadi gak mungkin aku berani macam-macam sama Trian.”
                “BULLSHIT!, terus kenapa kamu nempel-nempel sama Trian?” Fero melemparkan tatapan tajamnya pada Davina.
                “Trian yang selalu menghampiri aku duluan, aku gak pernah berusaha untuk deketin dia.” Sebelum Davina semakin terpojok, Diba datang dan membawa Davina menjauh dari dua nenek sihir itu.
                Keinginan Davina untuk membeli sepatu idamannya itu memang ia rahasiakan dari ibu dan sahabatnya, Diba. Ia tak ingin merepotkan siapapun. Davina hanya menuliskan keinginannya itu di selembar kertas yang ia selipkan di buku tulisnya yang tak sengaja terlihat oleh Diba saat jam istirahat dan membuatnya terdiam melihat isinya.

“I’ll never give up to get SEPATU KACA
It’s my dream !
I promise I’ll get it only with my sweat”

                                                                        ***
                Bel pulang pun berbunyi. Diba yang biasanya menemani Davina pulang sampai rumah, hari ini absen karena dia bilang ada urusan keluarga yang mendadak.
                “Enggak apa-apa Dib, aku bisa kok pulang sendiri.” Dengan raut muka menyesal, Diba meninggalkan Davina seorang diri. Karena tidak memiliki uang yang cukup akhirnya Davina pulang dengan berjalan kaki.
                Di tengah perjalanan, Davina tidak sengaja melihat Fero  yang menyebrang jalan sambil memainkan i-Podnya, dan sialnya ada truk bermuatan kayu yang kini mengarah pada Fero. Tanpa pikir panjang, Davina lari dengan tongkatnya secepat mungkin untuk menyelamatkan Fero. Didorongnya Fero ke trotoar jalan. Namun sayang, niat baik Davina harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Davina tewas seketika dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Fero yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri kini hanya bisa menangis histeris melihat orang yang selama ini dijahatinya karena keegoisan dan kecemburuannya pada Davina yang selalu mendapat perhatian Trian kini tewas mengenaskan demi menyelamatkan nyawanya.
                Diba yang langsung pulang karena urusan keluarganya itu sebenarnya hanyalah alasan agar ia bisa pergi ke mall untuk membelikan sepatu idaman sahabatnya. Tapi belum sempat ia membeli sepatu itu, pesan singkat yang dikirim Fero membuat Diba langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Davina. Dengan penuh kekhawatiran, Diba langsung menghubungi Bu Viana dan Trian yang langsung menyusul ke rumah sakit, tempat yang kini menjadi ruangan mencekam dengan jerit tangis dan banjir air mata karena kepergian Davina. Demi keperluan otopsi, Davina baru bisa dimakamkan esok hari.
                Besok adalah Hari Ulang Tahun Davina yang ke-17. Diba menceritakan keinginan Davina pada Fero yang tanpa pikir panjang langsung bergegas membeli hadiah istimewa untuk Davina dengan ditemani oleh Chika dan berharap keajaiban menghampiri Davina agar ia dapat membuka matanya kembali. Tak lama kemudian Fero datang membawa sepasang sepatu cantik dengan penuh harap.
                “Davina, aku benar-benar minta maaf karena selama ini aku selalu jahatin kamu, padahal seharusnya aku nemenin kamu saat kondisi kamu kaya gitu.  Aku benar-benar menyesal atas sikap aku yang kasar sama kamu selama ini.”
                Dengan terisak Fero terus berusaha menyampaikan maksudnya dengan menyimpan kotak cantik yang dibalut oleh kertas berwarna keemasan dengan pita merah muda nan cantik itu disamping Davina.
                “Ini Vin, ini sepatu kaca untuk kamu. Aku mohon kamu bangun Vin, kamu akan sangat cantik memakai sepatu kaca ini.” Kini Fero tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.
                Tuhan memang punya rencana-Nya sendiri yang tak bisa ditebak oleh siapapun.
                Tepat di Hari Ulang Tahun Davina yang ke-17, semua orang harus merayakannya di tempat yang takkan pernah mungkin menjadi tempat perayaan ulang tahun selayaknya. Bu Viana sangat terpukul dengan kepergian Davina yang tak terduga, terutama Fero yang diselimuti sejuta rasa bersalah dan Diba yang tak sanggup lagi berdiri dan terus terisak tanpa berusaha menghentikannya karena sahabat sejatinya kini pergi disaat ia seharusnya berbahagia dan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan doa bersama untuk kebahagiaan hidupnya dengan mengenakan gaun cantik dan sepatu kaca yang ia inginkan selama ini, yang tentu saja akan membuatnya terlihat begitu cantik. Bukan dirayakan dengan isak tangis dan seuntai doa yang mengiring kepergiannya dengan gaun cantik yang kini digantikan dengan sehelai kain putih bersih untuk membalut tubuh Davina yang kini terbujur kaku dibawah tumpukan tanah yang dibahasi air mata kehilangan.
                Dan sepatu kaca itu kini hanya bisa tersimpan cantik di depan pusara gadis berhati tulus yang bertuliskan “Davina Putriani”.


»»  READMORE...
 
Cute Pink Kaoani